Yin dan Yang merupakan salah satu simbol kehidupan yang paling dikenal di seluruh dunia. Simbol dengan arti "hidup yang seimbang" ini memiliki dua warna di dalamnya, yaitu hitam (gelap) dan putih (terang). Yin yang bermakna gelap berkaitan dengan sang pemilik malam, bulan. Sementara, Yang yang bermakna terang melambangkan sang pusat tata surya, matahari. Simbol kehidupan ini rupanya juga dapat menggambarkan kisah hidup sepasang anak kembar perempuan di Negeri Sakura, Jepang. Dua gadis dengan nama yang memiliki arti cerminan dari masing-masing bagian simbol, Yin dan Yang. Tsukiko (child of the moon) dan Hinako (child of the sun) adalah pemeran utama dari kisah Yin dan Yang dalam wujud manusia.Kisah ini berawal di akhir tahun 1999. Dimana Kurosawa Kaito, seorang pendatang di Kota Takamatsu dan bekerja sebagai pedagang kecil, berpacaran dan menghamili seorang mahasiswi yang berusia 5 tahun lebih muda darinya, Sato Aiko. Sato Aiko merupakan gadis yang sejak kecil dirawat oleh bibinya yang hidup sendiri dan bekerja sebagai seorang pemilik kedai mi, Sato Nobuko. Kabar buruk perihal kehamilan Aiko membuat Nobuko terkejut dan murka bukan main. Keponakan satu-satunya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang dan tumbuh menjadi salah satu mahasiswi terbaik Takamatsu University merusak masa depannya sendiri dengan hamil diluar nikah. Kemurkaan Nobuko tentu saja tak memberikan izin untuk Aiko melahirkan bahkan menikah dengan Kaito. Keputusan tersebut serta-merta membuat Kurosawa Kaito dan Sato Aiko memutuskan untuk nekat meninggalkan Kota Takamatsu untuk kawin lari dan tinggal di Tokyo.Beberapa bulan setelah Kaito dan Aiko menikah dan tinggal di Tokyo, Aiko pun melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Kurosawa Hinako pada tanggal 15 Agustus 2000. Hinako sendiri memiliki arti child of the sun, yang mana kedua orang tua anak itu berharap putri mereka dapat tumbuh sebagai seseorang yang agung seperti sang surya dan ia dapat menjadi cahaya yang senantiasa menyinari dunia untuk orang-orang di sekitarnya. Selama tiga bulan penuh Hinako menjadi harta paling berharga untuk kedua orang tuanya, sebelum akhirnya Kaito pulang dengan seorang bayi perempuan yang rupanya adalah anak dari sahabat terdekatnya, Ishioka Mutsuki. Terjadinya satu petaka mengerikan berhasil merenggut nyawa Mutsuki dan istrinya, membuat Kaito akhirnya mengangkat anak sang sahabat sebagai saudari kembar putrinya dan memberikannya nama Kurosawa Tsukiko sebagai identitas.Hinako dan Tsukiko tumbuh sebagai sepasang saudari kembar pada umumnya. Usaha Kaito yang semakin berkembang pesat seiring berjalannya waktu membawa keluarga kecilnya menjadi berkecukupan tanpa kekurangan suatu apapun. Hinako yang merupakan seorang kakak, selalu memberikan perhatian dan menyayangi adik kembarnya, Tsukiko. Keluarga Kurosawa hidup bahagia dan menciptakan momen-momen menyenangkan bersama setiap harinya. Namun, apalah daya manusia ketika mereka dihadapkan langsung oleh kuasa semesta. Kebahagiaan yang dirasa oleh Keluarga Kurosawa tak dibiarkan berlangsung lama, tepatnya pada tanggal 15 Maret 2012, Kaito mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Kembar Kurosawa yang saat itu baru saja lulus dari bangku sekolah dasar terpukul hebat. Rencana berlibur ke Thailand sekeluarga setelah kelulusan Hinako dan Tsukiko pun gagal total atas kehilangan sang kepala keluarga. Tak hanya si kembar, Aiko pun tak dapat menerima kenyataan bahwa suami yang begitu dicintai telah pergi untuk selamanya. Kehilangan yang dirasa oleh Aiko membawa wanita itu ke garis terdepan gangguan depresi.Malapetaka yang menguji Keluarga Kurosawa tak berhenti di titik kehilangan Kurosawa Kaito. Dua minggu setelah jasad Kaito dimakamkan, Sato Aiko bangun di suatu pagi dan membawa si kembar Kurosawa ke rumah bibinya, Sato Nobuko yang berada di Kota Takamatsu. Kedatangan Aiko bersama kedua putrinya mendapat tentangan keras dari Nobuko. Bibi dari Aiko itu pun mengusir keponakan dan cucunya, namun tangisan dan kesedihan yang ditunjukkan oleh Aiko akhirnya menyentuh hati Nobuko sehingga ia menerima dan membiarkan mereka tinggal bersamanya. Sayang sekali, keesokan harinya, Nobuko menemukan Aiko kabur dari Takamatsu dengan hanya memberikan satu amplop tebal berisi sejumlah uang dan secarik kertas berisikan surat perihal permohonan yang ditujukan kepada sang bibi untuk merawat kedua putrinya. Pada awalnya, Sato Nobuko masih tak bisa mencerna kejadian apa yang baru saja ia alami. Namun pada akhirnya, ia bisa menerima si kembar Kurosawa dan merawat mereka. Nobuko mendaftarkan Hinako dan Tsukiko ke sekolah dan mengurus segala hal yang menjadi kebutuhan mereka menggunakan uang yang telah ditinggali oleh Aiko.Lingkungan baru di Kota Takamatsu tempat sang nenek tinggal sangat berbanding terbalik dengan lingkungan yang ada di Tokyo. Tepat setelah kepergian sang ibu yang meninggalkan dirinya dan saudari kembarnya tanpa sepatah kata, Hinako menghabiskan waktu berhari-hari untuk menangis. Ia bahkan sempat beberapa kali membentak sang nenek karena masih tak bisa memproses banyaknya kejadian menyedihkan yang sudah ia alami hanya dalam kurun waktu satu bulan. Kehidupan dalam rumah megah dengan berisikan memori-memori membahagiakan kini berubah menjadi lingkungan rusun yang lusuh dan kotor hanya dalam satu kedipan mata. Terlebih lagi tingkat kriminalitas yang terdapat di lingkungan Takamatsu masih dapat terbilang tinggi, membuat Hinako benar-benar hampir kehilangan kewarasannya.Hari-hari berlalu, kesedihan yang dirasa oleh Hinako atas kepergian ibunya yang tega meninggalkannya dan Tsukiko di Takamatsu bersama nenek Nobuko lambat laun berubah menjadi kebencian yang amat mendalam. Ia memutuskan untuk bangkit dan belajar dengan tekun agar dapat menjadi seseorang yang hebat lalu dapat menemukan Sato Aiko. Bukan, itu bukan karena ia merindukan sosok wanita yang telah melahirkannya. Namun Hinako bersumpah ia akan menemukan ibunya dan membalaskan dendam atas aksi yang dilakukannya dengan meninggalkan si kembar Kurosawa. Bukankah aksi itu dapat terhitung sebagai pembuangan? Benar, 'kan? Aiko telah membuang Hinako dan Tsukiko. Aiko telah membuang kedua putrinya. Aiko telah membuang darah dagingnya sendiri.Masa sekolah di bangku Sekolah Menengah Pertama pun mulai dijalani oleh Hinako dan Tsukiko seperti biasa, meskipun keduanya masih harus berusaha keras untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Kontras dengan sang saudari kembar yang anti belajar, Hinako justru selalu menghabiskan waktunya dengan berkutat pada beragam jenis buku, baik itu di sekolah maupun di rumah. Nyatanya, status Aiko yang dulu sempat disebut-sebut sebagai salah satu mahasiswi terbaik Takamatsu University memberikan gen superior dan otak cemerlang mengalir dalam tubuh sang putri. Hinako tumbuh sebagai siswi kebanggaan sekolah dan cucu kesayangan Nobuko yang seringkali memenangkan banyak penghargaan dalam perlombaan dari berbagai bidang yang ia ikuti.Kecerdasan dan kegigihan dalam diri Hinako terus tumbuh bahkan sampai ia melanjutkan studinya di Takamatsu High School dengan menggunakan uang Nobuko dari hasil berdagangnya. Selama menjadi siswi Takamatsu High School, Hinako pun termasuk ke dalam sekumpulan siswa dari kelas unggulan. Kisah hidup Hinako pada titik itu sudah mulai memasuki fase-fase membahagiakan, namun lagi-lagi semesta tak ingin tinggal diam. Sato Nobuko divonis memiliki penyakit Liver yang sudah memasuki stadium akhir dan membutuhkan donor hati sesegera mungkin. Tentu saja dengan uang hasil berdagang mi dari kedai mi milik Nobuko, Hinako dan Tsukiko tidak memiliki uang yang cukup untuk pengobatan. Hingga akhirnya Tsukiko memutuskan untuk mulai bekerja dan meminta Hinako untuk kembali fokus pada pendidikannya. Entah pekerjaan apa yang saudari kembarnya pilih atau miliki, ia tidak mau ambil pusing. Selama pengobatan sang nenek tetap dapat berjalan dan biaya sekolahnya masih bisa terpenuhi, Hinako akan menuruti permintaan Tsukiko. Ia kembali fokus sekolah seraya mengurus nenek yang rutin setiap minggu pergi ke rumah sakit. Hinako dapat mengatur waktunya dengan baik sebagai seorang siswi dan sebagai seorang cucu. Ia pun bahkan sempat mengikuti program pertukaran pelajar. Biaya yang dipakai untuk mengikuti program tersebut tentu saja berasal dari sang saudari kembar.Pada tahun 2018, si kembar Kurosawa lulus dari bangku sekolah menengah. Hinako sempat memenangkan beasiswa untuk berkuliah di New York dan Tsukiko siap memberikannya uang untuk biaya hidupnya di sana. Namun setelah berpikir berminggu-minggu, Hinako memutuskan untuk mengurungkan niatnya berkuliah di New York dan memilih melanjutkan studinya di Kagawa University. Hal ini dikarenakan ia tidak ingin neneknya ditinggal seorang diri ketika Tsukiko pergi bekerja. Uang yang dapat digunakan untuk biaya hidupnya di luar negeri pun lebih baik digunakan untuk biaya pengobatan sang nenek. Dan kali ini, lagi-lagi semesta mengajak Hinako dan Tsukiko untuk bercanda. Nenek Sato Nobuko meninggal dunia karena penyakitnya. Tahun penuh musibah kembali dialami oleh si kembar Kurosawa. Kepergian sang nenek menyisakan Hinako dan Tsukiko tinggal berdua di rumah tanpa ada siapapun lagi yang bisa disebut sebagai kerabat.Pada suatu malam, masih dalam minggu duka setelah Nobuko meninggal dunia, Hinako dan Tsukiko bertengkar hebat lantaran Tsukiko bersikeras ingin pergi bekerja. Hinako yang masih berkabung dan merasa sangat sedih melihat saudari kembarnya seperti tidak peduli dengan sang nenek. Padahal Nobukolah yang telah merawat mereka sedari kecil. Pertengkaran yang terjadi tak membuahkan hasil, Tsukiko tetap pergi bekerja dan meninggalkan Hinako sendirian di rumah. Namun sepertinya Dewi Fortuna tak membiarkan Hinako terdiam di rumah tanpa apapun. Saat saudari kembarnya bekerja, Hinako tanpa sengaja menemukan satu barang penting milik Tsukiko yang tak seharusnya ia temukan. Mulai saat itulah Hinako mengetahui pekerjaan apa yang selama ini dilakukan oleh Kurosawa Tsukiko. Saudari kembarnya bekerja sebagai seorang con artist, melakukan berbagai macam tindakan kriminal demi mendapatkan uang.Hinako menyembunyikan fakta bahwa ia telah mengetahui pekerjaan saudarinya. Sebagai seorang mahasiswi jurusan hukum, ia pun menutup mulutnya rapat-rapat. Ia akan menjaga saudarinya. Ia tidak akan membiarkan siapapun dan apapun menyakiti saudarinya. Maka sejak itulah Hinako mulai mempelajari ilmu hacking. Ia memutuskan untuk menjadi pelindung sang adik. Hal itu terus berjalan selama Hinako berkuliah, ia terus menerus menjadi back up bagi sang saudari kembar. Bahkan setelah kini Hinako lulus dari Kagawa University dan menjadi seorang jaksa, ia tetap senantiasa melindungi Tsukiko. Hinako akan terus menjunjung keadilan dan menjadi jaksa yang baik, namun pengecualian jika ada sesuatu yang berkaitan dengan saudarinya.